Catatan Pendakian Gunung Argopuro, Melintasi Pegunungan Hyang



Oke kali ini gue akan kembali menuliskan perjalanan mendaki gue. yak kenapa mendaki mulu? ya karena cuma ini kegiatan yang bikin gue seneng dan bahagia, ya siapa sih di dunia ini yang gak kepingin bahagia? nah bahagia punya jalan dan caranya masing - masing toh ? so ini jalan kebahagian gue :D...*curhat mode on


Gunung Argopuro terletak di Timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Probolinggo, gunung ini memiliki ketinggian 3.088 Mdpl dan merupakan gunung dengan jalur terpanjang di Pulau Jawa CMIIW,
Gunung Argopuro juga disebut gunung seribu candi, hal tersebut ditandai dengan adanya bekas reruntuhan candi di Puncak Rengganis dan situs arca di area Puncak Argopuro.

Terus kenapa lo pergi ke Gunung ini? jujur aja gue penasaran sama Gunung Argopuro ini dari jaman kuliah dulu, sayangnya aja dulu gak kesampean gegara pas mau berangkat nih gunung sedang kebakaran Hutan, dan baru sekarang tercapai karena pas banget tanggal kalender bolong - bolong liburnya, jadi dengan cuti 3 hari bisa dapet 9 hari :).

Perjalanan kali ini akan gue jalani dengan kawan - kawan di forum Kaskus OANC, forum yang membuka wawasan gue lebih luas tentang dunia pendakian sejak pertama kali gabung di akhir tahun 2009 hingga sekarang.

oke lanjut kecatatan perjalanan :D


Day 1
Sabtu, 24 Mei 2014

( Stasiun Gambir Jakarta Pukul 19.30 )



Suasana  didalam Kereta Sembrani

Para pendjahat OANC udah berkumpul di Stasiun ini, btw ada dua orang pendjahat yang baru gue kenal secara langsung disini, sebelumnya cuma kenal lewat omongan dan forum aja.Dan gak lama kemudian kereta Sembrani yang akan kami tumpangi sudah tiba diperon, gue pun bergegas menaiki kereta tersebut dan mencari kursi pesanan gue. Oiya total Tim yang akan mendaki adalah 13 orang, 7 orang dari Jakarta dan sisanya akan bertemu di Surabaya nanti.

Perjalanan menggunakan kereta eksekutif adalah pengalaman pertama gue selama berpetualang, jangankan naik gunung, untuk sekedar berlibur aja gue gak pernah naik kereta eksekutif, yah namanya juga dulu masih mahasiswa yang serba dikasih sama emak babeh, itu juga ngepas bener, buat ngetrip ngumpulin duit buat jalanya aja setengah mati, alhamdulillahnya sekarang udah kerja jadi bisa nikmatin trip pake keringet sendiri.

Kereta eksekutif sebenernya gak beda jauh sih sama ekonomi dan bisnis, yang bikin beda cuma kursi dan waktu tempuhnya aja ditambah di eksekutif ada pramugarinya cuy :matabelo: gue pun sempet ngemodusin pramugarinya ,wahahah ya pokoknya perjalanan kali ini seru punya euy, lama banget gak ngerasain gila - gilaan.


Day 2
Minggu, 25 Mei 2014

( Stasiun Pasar Turi Surabaya Pukul 06.30 )

Kereta tiba di Kota Surabaya, disini gue bertemu dengan rekan - rekan OANC lainya dan segera berkumpul di ruang tunggu stasiun untuk mempersiapkan perjalanan menuju Desa Baderan. Perjalanan menuju desa Baderan akan kami lalui dengan mobil ELF sewaan yang sudah diurus jauh - jauh hari oleh Nessa sebagai tuan rumah di SBY, ELF ini mampu menampung 15 orang sekaligus, namun karena bawaan kami banyak jadi empat seat paling belakang dijadikan tempat untuk meletakan tas kami, setengah jam kemudian kami bergerak menuju Desa Baderan.
Petjah vroooooo!!!
Didaerah PLTU Paiton ELF yang kami sewa harus berhenti karena bannya Pecah, yak sekali lagi gue ulangin PETJAH BROO!! pecah berantakan, gue rasa sih sebabnya gegara supir yang mirip artis Epy Kusnandar membawa ELF ini layaknya membawa supercar, sosorodotan wae serong kekiri - serong kekanan, mau tidak mau perjalanan jadi tertunda karena sang supir harus mengganti ban terlebih dahulu, yang sialnya ban penggantinya botak parah! ya jadinya sepanjang perjalanan was was aja bawaanya takut bocor lagi.

Supir Epy Kusnandar beserta para Keneknya

( Desa Baderan Pukul 14.10 )

Setelah hampir 5 jam perjalanan gue dan tim tiba di desa Baderan, desa terakhir sebelum pendakian Argopuro, sebenernya ada dua jalur umum yang biasa digunakan pada pendaki untuk mendaki gunung Argopuro, yaitu desa Bremi dan Baderan, nah gue dan tim berencana mendaki lewat desa Baderan turun lewat desa Bremi yang "katanya" jalurnya datar.....
Baru sampe nih bro

Sesampainya, gue dan tim langsung repacking perabotan lenong lalu mesen makan siang di warteg sekitar situ, oiya dua org dari tim akan menyusul mendaki esok pagi, karena menunggu sodara nessa yang masih kerja pada hari ini dan akan tiba di desa Baderan tengah malam nanti, fyi ketiga orang tersebut memiliki dengkul sakti hasil latihan dengan guru sito gendeng di bukit tengkorak yang dapat menyusul kami sampai camp site Cikasur esok hari , yang dimana jarak antara desa Baderan -  Cikasur menurut penerawangan gue bisa lebih dari 9 jam..

Nyengir aje nih si abang
Perjalanan akan gue lalui dengan menggunakan ojek sampai batas makadam (makadam itu jalan setapak yg disusun dari batu - batu ) karena akan mengirit waktu sekitar 2 jam untuk menuju camp site Mata Air 1 yang jika ditempuh akan memakan waktu sekitar 6 jam dengan berjalan normal dari Desa Baderan.

Ojek - ojek disini merupakan para ojek sakti mandra bokir! bukan main gue dibuat ngilu diboncengnya, tanpa ragu melibas jalur - jalur sesat licin dan cetar membahana.ckck biji anuan gue sampe melejit bro,HAHA kalo gak percaya silahkan dicoba...


( Batas Makadam Pukul 15.50 )

Perjalanan 25 menit yang sungguh menyiksa, sumpah kalo aja jalurnya lebih jauh lagi gue rasa bakal turun bero naik nih ojek -__-. Setelah melakukan pembayaran gue dan tim langsung mendaki menuju camp site Mata Air 1, perjalanan menuju Mata Air 1 terbilang cukup membuat ngos - ngosan, jalurnya menanjak tidak terlalu curam namun jalurnya tanah basah cenderung becek berlumpur dan licin, ditambah tak berapa lama berjalan gue dan tim diguyur hujan, yasudahlah yang namanya kepleset sih udah makanan enak sepanjang perjalanan ini.

Batas Makadam, dari sini 4 - 5 jam berjalan menuju Mata Air satu

Sekitar 5 Jam berjalan, gue pun tiba di camp site Mata Air 1. Sesuai dugaan, camp site ini sangat penuh para pendaki, sehingga gue dan tim pun kehabisan lapak untuk mendirikan tenda, sempat terjadi pecah kongsi antara tim (ceilah pecah kongsi), jadi ada dua orang dari tim yang memutuskan untuk terus lanjut mencari tanah datar dan mendirikan tenda disana, sedangkan sisanya ada yang nge bivac dan gue sendiri ngecamp di jalur seperti pendaki lainnya karena memang udah pegel banget kaki untuk mencari tanah datar yang tidak tau ada dimana itu,haha
Terpaksa diriin tenda dijalur karena lapak penuh

Langit bertabur bintang menambah keindahan di camp site ini, malam tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat badan menggigil kalo bertelanjang dada diluar tenda *yailaaah :p, usai mendirikan tenda gue kembali memasak makan malam dan dilanjut dengan berbincang - bincang kecil. Temen gue si nanung membuka cerita, dia bercerita pernah bertemu pendaki yang membawa ayam dalam pendakianya kesebuah gunung dan ayam tersebut adalah ayam hidup, sebenernya ga salah sih, cuma niat aja bawa ayam idup ke gunung. Nah yang bikin lucu adalah keesokan paginya, disebelah tenda gue persis ternyata mereka membawa ayam idup kesini, tiga biji lagi! haha gue jadi gak enak hati ama nanung kalo aja semalem mereka denger perbincangan gue berdua, takut dikira nyinggung,hihihi


 Day 3
Senin, 26 Mei 2014

( Camp Site Mata Air I Pukul 06.00 )

Gue terbangun dari tidur yang cukup nyenyak, pagi ini gue sarapan dengan nasi dan kripik kentang, Perjalanan menuju Cikasur masih teramat jauh dan yang pasti gue butuh asupan makanan yang banyak,haha *emang dasar laper aja sih bro. Tak lama kemudian, terdengar samar raungan suara motor dari penduduk sekitar, gue dan rombongan lain yang kebetulan camp di jalur langsung gelagapan, lantaran belum packing perabotan lenong masing masing. Tapi dengan sedikit paksaan, penduduk sekitar pun dapat melewati jalan dengan lancar.

Foto oleh: Om Anwar "Menjelang pagi di Mata Air I"

Raungan sepeda motor penduduk terlihat sangat keras terdengar, itu pertanda jalur didepan yang akan kami hadapi adalah tanjakan yang cukup terjal. weh weh weh jadi makin galau mau lanjutin perjalanan karena udah jiper dengar suara raungan motor penduduk itu.

Sekitar jam 07.30 gue pun melanjutkan perjalanan menuju camp site selanjutnya yaitu Cikasur, perjalanan menuju Cikasur cukup menantang, usai Mata Air I kita akan langsung disugguhkan tanjakan yang cukup panjang, sebenenrnya perjalanan akan lebih mudah apabila tanah yang kita pijak tidak berlubang ditengahnya, lubang yang dimaksud adalah lubang yang membentuk jalur seukuran roda motor atau satu telapak kaki, karena jalur yang dilalui seperti ini maka perjalanan akan menjadi lebih sulit, pertama kita harus berjalan bak supermodel untuk melaluinya, atau memilih jalan mengangkangi lubang tersebut, gue sendiri pilih berjalan bak model, bukan karena gue mau jadi model, tapi karena jalananya licin cuy

Omat dan om Utan Ngebiovac di Mata Air I

( Camp Site Mata Air II Pukul 10.00 )

Setelah berjalan kurang lebih selama dua jam, gue tiba di camp site kedua yaitu Mata Air II, Mata air terakhir yang akan ditemui sepanjang perjalanan menuju Cikasur, disini gue beristirahat sekitar 1 jam untuk mengisi air dan memakan sedikit cemilan, gile baru dua jam jalanya aja perut udah kerucukan bro!!

Perjalanan kembali gue lanjutkan, setelah sebelumnya gue mengobrol dengan pendaki yang turun, kata doi untuk menuju ke Cikasur gue akan menemui sekitar 10 Sabana, nah Sabana ke 11 itu adalah Cikasur, njirrr gue dengernya jadi males, tau gitu gak usah nanya,hahaha

Nanung pose di mata air II
Disini mulai muncul quotes "yang bilang Argopuro itu landai siapaaa??" kenapa? karena kalo dituliskan jalurnya adalah naik turun bukit melipirin bukit, naik lagi, turun lagi, naik lagi, turun lagi, dataran dikit, naik lagi, dataran dikit, turun lagi dan lalala yeyeye lalala yeyeye begitu seterusnya sampai Cikasur, jadi yang bilang landai itu bohonnnggg, landainya gak seberapa hiks


( Alun - Alun Kecil Pukul  12.00 )

Alun - Alun kecil adalah sabana pertama yang gue jumpai di Argopuro, sabana yang cukup indah dimana terdapat satu pohon ditengahnya dan dijadikan tempat berteduh para pendaki yang beristirahat, tampak dari kejauhan beberapa teman gue sedang beristirahat dibawahnya, ya gue emang selalu paling belakang jalanya, maklum dengkul gue bukan dengkul racing hahaha, disini juga banyak dandelion, pohon yang ada bulu - bulu warna putih di kepalanya.

Panorama Alun - alun kecil 

Di alun - alun kecil gue bersitirahat sekitar 30 menit, untuk melemaskan otot yang mulai menegang, karena perjalanan menuju Alun - alun kecil cukup membuat dengkul dan ujung - ujung jari gue cenat - cenut, terlebih turunan terakhir sebelum alun - alun, cukup curam dan licin, gue pun sempet kepleset beberapa kali pas menuruninya.
Dandelion
Sekitar jam dua gue pun melanjutkan perjalanan menuju Cikasur dan akan mampir sebentar untuk makan siang di Alun - alun Besar, Perjalanan menuju Alun - alun Besar tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, menanjak dan melipir bukit yang tetep bikin kaki cenat cenut.

( Alun - Alun Besar Pukul  13.30 )

Alun - alun besar yang diselimuti kabut
Diperjalanan menuju alun - alun besar akan dijumpai pohon jancukan. pohon yang daunya menyeramkan serta berduri ini katanya bikin kulit panas kalo terkenanya. Jadi saran kalo mau ke Argopuro gunakanlah baju lengan panjang dan celana panjang untuk menghindari terkena pohon tsb. Sekitar pukul 13.30 gue tiba di Alun - alun Besar, alun alun besar merupakan sabana yang cukup luas dan dikelilingi oleh pepohonan, sangat indah sekali, karena memang kalo diperhatikan bukit - bukit yang terdapat di alun - alun besar ini mirip dengan walpaper windows xp  hahaha :p

Makan siang - siang tapi mengigil
Setelah makan siang gue pun melanjutkan perjalanan kembali menuju Cikasur, perjalanan menuju Cikasur dari alun - alun besar masih sama seperti jalur sebelumnya, masuk hutan, keluar, lalu ketemu sabana, kemudian masuk hutan lagi dan begitu seterusnya, hingga pada akhirnya gue pun tiba di Cikasur pada pukul 16.30

( Cikasur Pukul 16.30 )

Akhirnya setelah 9 jam berjalan dari camp site Mata Air I gue tiba juga di Cikasur, kaki gue pegel banget asli pas sampe sini, rasanya udah mager aja mau ngapa - ngapain -_-. oiya Cikasur ini menurut sejarahnya dulu digunakan sebagai landasan pacu pesawat pada masa penjajahan Jepang, disini juga terdapat bangunan yang sudah rusak dan konon (jangan dibalik bacanya) katanya bekas tempat pemenggalan kepala orang :matabelo:

Sore di Cikasur
Gak lama berselang, rombongan nessa yang pagi ini menyusul dari Baderan tiba, buseeeeeeeeeeet bener - bener dengkul racing, cuma beda 30 menit sama gue yang berangkat dari Mata Air I. Bener - bener muridnya sito gendeng nih 3 orang ini,ckckck

Menjelang senja pemandangan di Cikasur cukup indah, kabut yang menutupi separuh sabana menambah kecantikan pemandangan sore ini, cuaca sore pun mulai mendingin, usai mendirikan tenda gue pun memasak makanan, menu malam ini cukup unik yaitu roti cane,  roti yang seumur hidup baru gue makan disini, dan ternyata enak juga ya roti cane itu :p


 Day 4
Selasa, 27 Mei 2014

( Cikasur Pukul 06.00 )

Cikasur in the morning
Matahari mulai menunjukan sinarnya di sebelah timur alun - alun cikasur, gue pun bergegas keluar tenda dan mengabadikan moment tersebut, suhu pagi ini cukup dingin namun tidak menyurutkan niat gue untuk menyaksikan pemandangan mempesona pagi itu.

hari ini gue dan tim akan melanjutkan perjalanan menuju camp site berikutnya yaitu Rawa Embik, sebuah camp site yang sangat dingin karena posisinya berada di lembahan antara dua bukit. Sekitar pukul 08.30 gue pun melanjutkan perjalanan menuju Rawa Embik

pohon jancukan yang daunya beracun

Selepas Cikasur, perjalanan menuju Rawa Embik masih sama seperti hari kemarin, didominasi sabana, hutan, sabana dan hutan, ya begitu seterusnya sampai Rawa Embik -__-, bedanya dijalur sebelum Pos Cisentor banyak ditumbuhi pohon jancukan, rasa - rasanya sepanjang perjalanan di Argopuro disinilah paling banyak dijumpai Pohon jancukan yang memang djancuuuuk


( Cisentor Pukul 11.30 )

Setelah tiga jam berjalan gue tiba di pos Cisentor, pos yang biasa dijadikan camp site terakhir pendaki yang akan melakukan summit attack. Tapi tidak untuk tim kami, karena kami akan turun melalui jalur trabasan atau potong kompas yang dimana jalur tersebut dekat dengan puncak Argopuro. jadi kalau pendaki yang camp di pos Cisentor untuk turun menuju campsite terakhir yaitu Danau Taman Hidup, melalui jalur normal bisa ditempuh sekitar 8 - 9 Jam tergantung dengkul :p. sedangkan jika melalui jalur trabasan atau jalur potong kompas menuju Danau Taman Hidup dapat ditempuh dengan waktu 5 - 6 jam.

Melintasi jalur dari batang pohon yg rubuh

Di Pos cisentor gue dan tim beristirahat sebentar, sekedar meluruskan kaki yang udah mulai linu karena jalurnya yang panjang dan melipir. sekitar pukul 12.00 gue dan tim melanjutkan perjalanan menuju Rawa Embik

( Rawa Embik Pukul 14.00 )

Sekitar dua jam berjalan akhirnya gue tiba di Rawa Embik, dengan gegap gempita gue berkata Alhamdulillahhh!!! perjalanan dari Cisentor sampai Rawa Embik memang terbilang tidak sejauh Cikasur - Cisentor, tapi karena panas yang menyengat serta perut yang mules membuat perjalanan saat itu berat banget,haha
banyak pohon tumbang menuju rawa embik 

Oiya di Rawa Embik terdapat sungai kecil yang aliran airnya cukup deras, katanya sih kalau musim kemarau sungai ini kering, jadi bagi yang ingin camp disini saat musim kemarau ada baiknya membawa stock air yang banyak dari Cisentor.

Di Rawa Embik sebenrnya kurang cocok untuk campsite *menurut gue, soalnya tanahnya miring dan angin yang berhembus cukup dingin, belum lagi kalau ada hujan sudah pasti ini jadi aliran air hujan.

campsite rawa embik

Menjelang malam gue pun mulai memasak makanan untuk makan malam, dimana makan siang dirapel sama makan malem sambil menikmati malam di Rawa Embik. Malam ini adalah malam Terdingin selama camp di Argopuro, si nanung rekan gue tidur sampe lebay, bersuara "brrrr brrr brrr dinginnnnn" *bayangin sendiri gimana deh cara ngomongnya* gue pun  menimpa kakinya dia dengan maksud biar anget, eh dia malah bilang *sakiiiiit* dengan manja, hoeks tailah lu nung! hahaha


 Day 5
Rabu, 28 Mei 2014


( Rawa Embik Pukul 06.00 )

Pagi ini cukup cerah, namun suhu pagi ini masih saja begitu dingin, jangankan beranjak keluar tenda untuk minum saja rasanya males karena airnya sangat dingin. Usai makan pagi gue dan tim bergegas untuk summit attack lalu melanjutkan perjalanan turun melalui jalur terabasan. Perjalanan menuju puncak Argopuro dan Rengganis masih sama seperti seperti jalur sebelum - sebelumnya didominasi savana dan hutan rindang. Tepat pukul 08.30 gue dan tim meninggalkan Rawa Embik.

Nyarap pagi di rawa embik

 ( Alun - alun Lonceng Pukul  09.30)

Alun - Alun Lonceng, tampak didepan kanan puncak Argopuro kiri Rengganis (tidak terlihat)

Dibutuhkan waktu satu jam untuk menuju Alun - alun lonceng dari Rawa Embik. Alun - Alun lonceng sendiri merupakan sebuah dataran yang cukup luas terletak diantara Puncak Argopuro dan Rengganis. Disini gue dan tim beristirahat sebentar sebelum mendaki puncak yang hanya tersisa beberapa meter lagi dari tempat kami beristirahat. Setelah istirahat sekitar 30 menit kami segera menuju puncak Rengganis dengan meninggalkan tas ransel kami di Alun - Alun Lonceng.


( Puncak Rengganis Pukul  10.15)
view di puncak Rengganis

Jalur menuju Puncak Rengganis dari Alun - alun Lonceng tidak terlalu sulit, dibutuhkan kurang dari 20 menit untuk mencapai puncak ini. Sebelum memasuki kawasan puncak, akan kita jumpai sisa - sisa reruntuhan candi yang dahulu didirikan oleh Dewi Rengganis, dan juga tampak jelas disekeliling area puncak sisa - sisa reruntuhan tersebut. Siang itu puncak Rengganis sangat indah, hamparan awan terlihat sepanjang mata memandang, rasa - rasanya untuk pertama kalinya gue mendaki gunung merasakan anti-klimasks ketika tiba dipuncak, rasa menggebu - gebu yang bisanya muncul tidak terlalu gue rasakan kali ini, semua karena pemandangan indah sudah gue dapatkan sepanjang perjalanan kemarin.

dari kiri : gue, kang hadi, nanung, bang hendra dan om utan
Setelah berfoto dan menikmati pemandangan sekitar, gue dan tim pun beranjak turun menuju Alun - alun Lonceng dan langsung bergegas menuju Puncak Argopuro dan Puncak Arca. Untuk menuju Puncak Argopuro dari Alun - alun lonceng sedikit lebih berat, karena tanjakan yang terjal serta berdebu yang akan kita temui sampai tiba dipuncak.


( Puncak Argopuro Pukul  11.24)


Puncak argopuro ditandai bendera dan tumpukan batu

Setelah mendaki sekitar 15 menit, gue dan tim tiba di titik tertinggi di Pegunungan Yang, yaitu Puncak Argopuro, di puncak yang dipenuhi oleh pepohonan ini hanya terdapat sebuah batu yang ditumpuk dan papan tanda yang menunjukan bahwa ini adalah Puncak Gunung Argopuro.

Menuruni puncak argo menuju puncak arca
Tak lama gue dan tim disini, kami langsung melanjutkan menuju Puncak Arca, Puncak Arca sendiri keberadaanya masih di area puncak Gunung Argopuro, hanya saja untuk menuju ke Puncak Arca kita harus berjalan sedikit agak jauh dari puncak.


( Puncak Arca Pukul  11.40)

Situs arca dipuncak arca
Untuk menuju Puncak Arca, kita harus menuruni tebing yang lumayan curam dari Puncak Argopuro lalu berjalanan datar sedikit kemudian menaiki tebing tak terlalu curam lalu tibalah kita di Puncak Arca. Puncak yang ditandai dengan adanya Arca peninggalan leluhur ini cukup membuat gue terenyuh, *ceilah terenyuh*. gue sesaat membayangakan gimana gambaran kehidupan disini pada zaman itu, tapi gak bisa kebayang -__-, yang jelas alhamdulillah gue gak jadi orang dulu yang tinggal dimari =)), tak lama gue dan tim kembali menuju Alun - alun Lonceng dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Danau Taman Hidup.

Melintasi jalur trabasan menuju Danau Taman Hidup
Setelah istirahat usai summit attack, gue dan tim melanjutkan perjalanan turun menuju danau taman hidup, dimana di danau tersebut kami akan bermalam dan  juga menjadi malam terakhir kami di Pegunungan Yang, seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, gue akan menuruni pegunungan ini melalui jalur trabasan. Yah yang namanya jalur trabasan ya jalurnya serba apa adanya alias sempit dan rawan bahaya kalau tidak berhati hati. jalurnya terbilang extreme karena melipir bukit - bukit yang cukup bikin dengkul gemeteran.

Alang alang setinggi 2 - 3 meter akan selalu ditemui dijlaur trabasan

ditambah rumput liar dan alang - alang yang tinggi akan menjadi rintangan di sepanjang perjalanan, maka amat tidak disarankan untuk turun melalui jalur trabasan dimalam hari.


 ( Danau Taman Hidup Pukul  18.05)

Foto oleh: mba Arga diambil di Pos Cisinyal

Perjalanan menuju Taman Hidup sangat panjang dan melelahkan, entah berapa lama lagi akan tiba di taman Hidup gue udah gak pikirin saat itu, ya pokoknya bener - bener bikin pegel bro. Setelah berjalan cukup lama akhirnya gue tiba dihutan Lumut yang menurut GPS berarti gue akan tiba di Danau Taman Hidup sebentar lagi. Tapi kenyataanya tidak sedekat apa yang kita lihat di GPS, gue pun sempat tersasar sedikit untuk menuju Danau Taman Hidup, tersasar masuk kedalam hutan yang isinya pohon segede gede alaiyum gambreng dan menyeramkan.

danau taman hidup pagi hari
Tepat pukul 18.05 gue pun tiba di Danau Taman Hidup, cuma alhamdulillah yang bisa gue ucapkan pada saat itu sambil melepaskan tas ransel dan sepatu busuk gue untuk segera melepas lelah perjalanan hari ini.
malam ini merupakan malam terakhir gue dan tim di Gunung Argopuro, maka dari itu logistik yang kami bawa akan kami masak habis semua disini, malam ini akan jadi party terkahir kita. setelah usai mendirikan tenda kita pun segera memasak bahan makanan, dan ada juga yang pergi mengambil air ke tepian danau, malam semakin larut cuaca semakin mendingin dan menyeramkan, suer disini tuh hawanya gak enak, mungkin karena hutanyanya di dominasi pohon besar dan rapat kali ya, sehingga keliatanya jadi suram muram.

campsite di Taman Hidup diantara pohon - pohon besar 

Malam ini tinggal gue bertiga yang tersisa diluar tenda yaitu gue nanung dan nessa. Kita bertiga mengobrolin banyak hal hingga percakapan kita mulai terhenti karena adanya suara - suara yang menggangu kita, tak lama kita pun memutuskan untuk tidur, gue pun tidur sambil memakai headset karena gue mendengar suara yg cukup creepy dibelakang tenda dan lucunya si nanung minta gue dengerin musik gak pake headset, gue yakin karena dia juga denger suara aneh tersebut dan parno tapi ogah sendirian parnonya karena gue tidur pake headset,haha


 Day 6
Kamis, 29 Mei 2014

 ( Danau Taman Hidup Pukul  06.05)
Foto oleh: mba Arga "foto keluarga di Taman hidup)
Pagi hari tiba, ternyata tidur malam ini adalah tidur gue paling nyenyak selama pendakian, mungkin karena abis makan enak semalemnya kali ya,haha. pagi ini hanya gue habiskan untuk santai - santai sambil masak makanan pagi. Rencananya hari ini gue akan turun ke desa Bremi dan langsung menuju Surabaya untuk berisitirahat di rumah nessa. Pagi ini gue berjalan ketepi Danau untuk menyaksiakan pesona matahari terbit atau bahasa kulonya sunrise tapi sayangnya pagi ini berkabut sehingga matahari tidak terlihat bagus.

Makan pagi sebelum turun ke desa Bremi
Usai menikmati pagi di tepian Danau gue kembali ke campsite  untuk repack perabotan lenong dan segera menuju Desa Bremi. Perjalanan menuju desa Bremi akan memakan waktu sekitar 4 Jam berjalan santai dan jalur yang dialui merupakan tanah merah yang sudah terbentuk seperti jalur pendakian sehingga tidak terlalu sulit untuk dilalui. gue pun ngejoss alias berlari kecil untuk mengejar waktu menuju desa Bremi, diotak gue udah isinya makan bakso atau gak mie ayam sesampainya dibawah nanti.


 ( Desa Bremi Pukul  12.00)


Desa Bremi

Setelah dua jam berlari - lari kecil gue pun tiba di Desa Bremi, dan langsung bergegas menuju basecamp pendakian, basecamp pendakian siang itu ramai para pendaki, gue yang gak kebagian tempat memutuskan beristirahat di sebuah warung bakso tepat didepan basecamp pendakian. Sambil menunggu kawan yang lainya gue pun menyantap bakso dua porsi disini,huahaa

Makan Buaksooo
Setelah basecamp mulai sepi kami pun pindah lapak ke sana dan secara bergantian mandi untuk membersihkan daki yang menumpuk hasil 5 hari gak mandi,huaha. kamar mandi disini bersebelahan dengan kandang sapi perah, jadi sambil nunggu antrian gue pun main - main sama sapi perah, sapi perah disini lagi hamil dan gede - gede badannya, susu sapinya juga murah cuma 5rb per liter, yang unik adalah nama para sapi - sapi tersebut, ada Manohara ada Issabella dan ada juga yg belum dikasih nama karena kata ibu yang punya dia masih perawan jadi belum boleh dikasih nama hahaha gue ngakak dengernya

( Basecamp Pendakian Pukul  15.30)

Basecamp Pendakian
Elf sewaan kami sudah tiba disini, setelah memasukan perabotan lenong kedalam ELF gue dan tim pun segera meninggalkan basecamp ini dan menuju ke Surabaya, ELF sewaan ini berbeda dengan yang gue pakai saat berangkat, kali ini terlihat lebih nyaman, cuma si Epy Kusnanadar alias supir ELF ini masih sama aja cara ngebawa Mobilnya -__-. setelah dua jam berjalan kita pun menyempatkan diri untuk makan malam di restoran tepi jalan, lucunya karena efek turun gunung masih ada, jadi turun dari ELF pun masih pada pincang, rata - rata betis dan paha udah mulai tegang dan telapak kaki mulai bengkak macem orang hamil haha ini adalah hal lucu yang selalu gue liat setiap kali gue turun gunung.

Di daerah Surabaya, Omat yang tak lain adalah kameramen dalam pendakian kali ini berpisah, karena dia akan melanjutkan perjalanan menuju Kampungnya. lalu kamipun melanjutkan perjalanan menuju Rumah Nessa yang berada di tepi kota Surabaya, tepatnya gue gak tau dimana, pokoknya menurut penuturan dia jauh dari Surabaya, mungkin kalo gue ibaratkan Pamulang atau BSD kalo Di Jakarta.


( Surabaya Kediaman Nessa Pukul  21.00)

Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kami tiba di Surabaya, disini kami berpisah dengan Endol dan Arga karena mereka akan kembali kerumahnya di daerah Surabaya Kota. Setelah istirahat cukup kami langsung keluar untuk berjalan - jalan melihat kota Surabaya dan berniat cari tongkrongan asyik, tapi apa daya karena kita jauh dari Surabaya dan tidak ada kendaraan buat ngangkut pasukan ditambah rumah Nessa ini berada di daerah komplek Elit yang dimana tempat tongkrongan pada mahal - mahal akhirnya diputuskan kita makan mie di warung kopi pinggir jalan,haha dasar orang ndesso

 Day 7
Jumat, 30 Mei 2014

( Surabaya Kediaman Nessa Pukul  09.00)
Makanan disini enak enak 

Hari ini gue melek bukan berada didalam tenda lagi, melainkan didalam rumah yang nyaman, bangun tidur langsung mandi dan gosok gigi lalu makan pagi, gak banyak hal yang dilakukan hari ini sampai akhirnya usai solat Jumat rekan kaskus OANC Surabaya si Anggi datang membawa mobil dan akan mengajak kami mencari makan siang di Surabaya, gue dan kawan - kawan makan di warung Pecel yang terkenal di Surabaya, gue pun makan dengan kalap dan lahap, nikmatnya makan siang ini...

Usai makan kita kembali kerumah Nessa karena si Anggi gak bisa nemenin lebih lama karena ada panggilan kerja. Dirumah Nessa gak ada yang kita lakukan selain tidur dan nonton tv sambil menunggu Nessa yang pulang kerja, FYI kasian dia baru turun gunung langsung kerja :o. Kami akan pulang malam ini, jadi sambil menunggu Nessa Pulang kamipun bersiap - siap merapihkan perabotan lenong kami.


( Stasiun Pasar Turi Pukul  20.00)

Tuooeeeet bunyi keras terompet menandakan bahwa kereta Argo Anggrek tumpangan kami akan segera meninggalkan Surabaya, dan juga bunyi kereta ini menandai kelegaan hati gue bahwasanya detik - detik sebelum keberangkatan, 3 orang rekan gue yaitu Bang hendra, Awal dan Angan belum tiba di Stasiun karena suatu hal yang cukup panjang untuk dijelaskan, yang pasti mendebarkan dan seru,haha

Di stasiun kita sempat bertemu sangat sebentar dengan Endol dan Arga, ga sempet foto - foto ga sempet ngobrol anya unyu karena kita di detik - detik kereta berangkat saat tiba di Stasiun, dan juga mereka sempat menitipkan sebuah martabak telor buat perbekalan kami dikereta, thanks ya mas dan mba bro!!!huehe

Kereta Argo Anggrek menurut gue lebih bagus dibanding Sembrani, kamar mandinya juga lebih bagus, pintu kereta yang serba teknologi jadi terkesan lebih mewah aja dibanding Sembrani.huaha sotoy!
sepanjang perjalanan tidak ada yang dilakukan kecuali tidur dan denger musik.


 Day 8
Sabtu31 Mei 2014

( Stasiun Gambir Pukul  08.00)

Yeaay akhirnya sampai ke Jakarta, setelah berpisah dengan kawan - kawan gue begegas keluar stasiun untuk melanjutkan perjalanan pulang kerumah. Perjalanan yang menyenangkan dengan kawan yang menyenangkan, rasanya satu minggu kemarin berlalu sangat cepat, klasik emang tapi emang hal ini selalu gue rasain setiap gue balik dari perjalanan dan selalu gue rasain pas banget gue sampe di Jakarta entah itu di Stasiun, terminal atau di bis dalam perjalanan pulang kerumah..


"End of Journey"


Terima kasih gue ucapkan kepada:

* Allah SWT
* Kedua orang tua
* Kaskus OANC
* Anggi atas wisata kuliner di SBYnya
* Rekan Seperjalanan
   1. Nessa (xbandrolx)
   2. Kang Hadi (Kuya - Kuya)
   3. Om Andre ( Andrexx)
   4. Bang Hendra ( bocahbadunk)
   5. Om Utan ( Orang Utan )
   6. Angan ( tarantula3)
   7. Om Anwar (Sembalun)
   8. Awal
   9. Omat (smigun)
  10. Nanung ( Nanoenk73)
  11. Arga
  12.  Endol

*Dan lainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu


Anggaran Biaya 

Kereta Argo Sembrani        Rp. 320.000
ELF                                     Rp.200.000  (PP)
Registrasi                            Rp.6.000
Ojek                                    Rp.30.000 (sampai batas makadam)
Kereta Argo Anggrek         Rp.350.000

----------------------------------------------------------------------------------- +


TOTAL                              Rp.906.000


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.