Catatan Pendakian Gunung Tambora, Kaldera Raksasa di Sumbawa

Kaldera Tambora

Ini adalah Cerita pendakian gua ditahun 2016. Gua akui setelah menjadi seorang pekerja kantoran jadwal pendakian gunung gua jadi sangat berkurang, dari yang dulu semasa gua kuliah bisa 5 - 6 kali dalam setahun, kini menjadi 1 tahun sekali. tapi bodo amat dah yang penting gua musti ke gunung dalam setahun. Di tulisan gua kali ini gua mau bercerita tentang pendakian gua di Gunung Tambora yang menjadi salah satu gunung yang memliki diameter kawah cukup besar di Indonesia dan kemudian akan bersambung berlayar 3 hari 2 malam di kepulauan Komodo.

Sejarah Letusan Tambora ini unik untuk diketahui, semacem cerita letusan Pompeii, cuma bedanya dimari kaga ada fosil orang angus kek di pompeii, dimari cuma ada fosil benda - benda kuno peninggalan kerajaan yang hancur berantakan akibat letusan Tambora dan juga bangunan peninggalan Belanda yang dijadikan tempat wisata di desa ini. Jadi cuy habis mendaki Tambora kita bisa keliling mengunjungi tempat - tempat besejarah disekitar sini. contohnya ada situs Tambora, ada Pura, ada Pabrik Kopi tua peninggalan Belanda dan masih banyak lagi dah. sayang banget kalo udah kesini terus gak ketempat bersejarah itu. nyesel kaya gua yang cuma bisa ngebacot ditulisan tanpa pernah liat apa yang gua sebutin diatas. seal eat!

Oke pendakian gua akan gua lalui dengan ketiga temen gua, pendakian ini penuh drama irama! *apaan sik!! ya pokoknya seperti drama - drama yang ada di sinetron. gak tau kenapa pokoknya gua jarang bener naik gunung mulus - mulus aja tanpa nemu kesialan. oiya diantara gua ber- empat salah satunya cewe, nah cewe inilah tokoh utama dalam drama ini.


Day 1
Sabtu, 14 Mei 2016

(Bandara Soekarno Hatta Pukul 07.00 WIB)

Gua akan memulai perjalanan gua dari sini menggunakan pesawat udara. gak ada lagi namanya bus kacrut yang pengen meledak gua tumpangi kaya pendakian gua dimasa - masa kuliah. Gua menumpangi pesawat maskapai "singa udara" sampai Denpasar yang kemudian akan dilanjutkan dengan maskapai sejenisnya menuju kota BIMA di Sumbawa.


(Bandara BIMA Pukul 16.00 WITA)

Bandara di Bima
Perjalanan gua menuju Bima ini mengalami delay, dikarenakan sewaktu transit di Denpasar bandara Ngurah Rai ditutup karena RI 1 mau landing, lucunya gua yang udah didalem pesawat disuruh turun dulu balik ke gate penumpang untuk menunggu kabar selanjutnya. kacrutnya udah nunggu lama RI 1 nya kagak landing - landing, kan suek cuy. singkatnya gua disuruh naik lagi kepesawat dan terbang menuju BIMA.

Di Bandara BIMA, gua sudah ditunggu sama mobil carteran gua dan salah satu temen gua yang kebetulan sampe duluan di Bima karena dia beda jam keberangkatan dengan gua bertiga. Gak pake anya - unyu, cipika - cipiki tai babi, tai soang gua dan rombongan langsung cus menuju desa Pancasila, yang merupakan desa titik awal pendakian gua.


(Doro Ncanga, gatau jam berapa )

Dalam sekali se-umur hidup gua pasrah untuk mati adalah saat perjalanan dari Bima menuju Desa Pancasila tepatnya di daerah Doro Ncanga, bukan apa - apa bro, ini driver carteran gua bawa mobil udeh kaya lagi NASCAR RUMBLE! RUMBLE IN THE BRONX! RUMBLE X RUMBLE! kampret asli! ngebut bener sampe saking takutnya gua make safety belt walau duduk dibelakang. FYI perjalanan menuju mari itu jalananya aspal mulus dan luruuuuus doang, dikiri kananya itu padang rumput yang luas. 
Kuda Slebor Penunggu Doro Ncanga

Yang bikin kacrut di padang yang gelap tanpa lampu penerangan sama sekali itu para penghuni Doro Ncanga suka seenak bijinya. Entah berapa kali gua dan rombongan hampir menbarak rombongan kuda - kuda slebor yang lari nyebrangin jalan. pada saat itu otomatis mobil yang gua tumpangi ngerem mendadak seada adanya sampe gua semobil pada teriak - teriak ( waa waa waa, aaarhh arrhh ikeeeh ikeehh kimochiii yemete), tapi si driver mah woles aja cuys sambil ketawa HE HE HE!

Kuda Scumbag
Belom lagi gua juga hampir menabrak kebo - kebo liar (kaya judul pelem panas yak) yang lagi giting di belokan gelap gulita. Otomatis gua semobil pada teriak sambil pegangan kursi nahan badan biar ga kelempar kedepan karena si driver ngerem pakem banget. dan klimaksnya adalah dengan sukses dia menabrak anjing - anjing slebor yang berlarian ditengah jalan. kaing! kaing! entahlah tuh anjing gimana nasibnya. gua gak mau matiiii konyol nabrak Jerapah ya Allahhhhh! doa gua saat itu (ngayal lagi di Afrika).


(Desa Pancasila. pukul 22.00 WITA)

Akhirnya penderitaan gua dan rombongan berakhir, gua sampe dibasecamp pendakian Tambora, yang biasa dikenal dengan kediaman Bang Ipul, gua pun diajak masuk kedalam rumahnya dan disuruh mijitin bang Ipul, karena udah cukup capek mijitin gua pun tertidur, ditengah tidur gua yang pulas ada sesuatu yang bergerak - gerak dibawah celana gua. Kampret! gaktaunya bang Ipul Hap Hap Otong gua! *canda doang bro ini bukan Bang Ipul Hap Hap. Btw keluarga Bang Ipul ini ramah bin baik banget dah, betah lu tinggal dimari saking ramahnya, apalagi kalo udah nyobain kopi khas Tambora buatan Bu Irma, meresap cuyys! FYI rumahnya gampang dicari karena banyak stiker- stiker dari para pendaki di jendelanya. 

Setelah mengetuk ngetuk pintu, keluarlah seorang ibu - ibu yang tak lain adalah istri dari Bang Ipul yang bernama Ibu Irma, gua tau namanya bukan karena kenalan, karena dia make baju volli tulisanya Irma. Irma Irama *halah kampret apa juga irama (canda doang bro)

Bu Irma ini menyediakan penginapan didepan rumahnya untuk disewa para pendaki, bentuknya seperti rumah panggung betawi, ada kasur dan listrik didalamnya. cukup nyaman dan amanlah pokoke. Gua berempat pun segera masuk kedalam rumah yang kami sewa tersebut untuk berisitirahat. dan berencana akan melakukan pendakian besok jam 9 pagi.


Day 2
Minggu, 15 Mei 2016

Kediaman Bang Ipuls

(Kediaman Bang Ipul. pukul 09.00 WITA)

Setelah re-packing perabotan lenong serta sarapan, gua berempat pun bergegas melakukan pendakian. untuk mengirit waktu pendakian, gua pun menaiki ojek scumbag dari basecamp sampai pos portal (pos yang berada di tengah kebun kopi). Perjalanan menuju pos portal ini kaya kampret brok! jalan offroad ga jelas dan urak - urakan akan menjadi tantangan awal pendakian ini.

Ojek Scumbag
Fyi ojek disini menggunakan motor bebek biasa yang dimodif roda-nya menjadi ban offroad. Tapi yang namanya jalan offroad mau motor lu kaya apa kek ban selip udah pasti terjadi karena saking lembek dan berlumpurnya jalanan ini. Apalagi gua yang berbadan besar ini, untuk bonceng gua aja abangnya udah kewalahan, ditambah pula dengan keril gua yang segede gaban. oleh karena itu gua nobatkan ojek scumbag Tambora ini ojek tergigih sepanjang masa, selamat atas prestasinya!*apaan dah ga jelas tai


(Pos Portal. pukul 09.30 WITA)

Selfie di pos portal

Setelah menumpangi ojek selama 30 menit gua terserang penyakit "ngangkangin" penyakit yang menyerang pangkal paha ini menyebabkan lu ngangkang mulu karena pegel. Penyakit ini tidak berbahaya cuma kampret bin cumi-nya biler aka Biji Lerpe jadi melejit ngilu - ngilu dibuatnya. Penyakit ini akan cepat hilang apabila paha lu di elus - elus Aura Kasih atau Tyas Mirasih.


Penampakan Pos Portal*gua juga nyariin portalnya dimana
Setelah penyakit "ngangkangin"  gua mereda, gue memulai perjalan ini menuju pos 1. Perjalanan menuju pos 1 dari sini terbilang masih geli - geli basah alias basah basah geli *lah apaan si. Jalurnya landai dengan kondisi tanah yang berlumpur parah, tanah disini rusak karena dilalui oleh motor - motor para pemetik kopi.


(Jalur Semen, pukul 10.30 WITA)

Sekitar 1 jam berjalan jalur berubah menjadi jalur setapak yang sudah di semen rapih, dipinggirnya terdapat besi pembatas dengan panjang sekitar 1 kilometer dan diujung jalur semen tersebut terdapat tangga yang lumayan curam dan merupakan titik awal pendakian kita dimulai. alias baru keliatan naik gunungnya karena abis ini jalur menanjak terus.

Jalur semen

(Pos Onta Scumbag, pukul 11.30 WITA)

Kenapa namanya pos Onta? ya disinilah drama setengah babak terjadi, dimana temen gua yang mirip dengan Onta Arab ini jatuh sakit dan pingsan. Pos ini jaraknya gak jauh dari ujung tangga semen. Paling sekitar 20 menit. dan bentuknya bukan pos bershelter. ya gua namain aja nama dia karena gua gatau lagi dimana saat itu, hahaha

Pos Onta Scumbag

Gua dan tim membuat biovac darurat karena hujan turun cukup deras dan juga si Onta arab ini lagi terkapar tak berdaya, inti dari segala inti dia punya penyakit dalam yang sama sekali gak gua duga, dia gabawa obat dan kemudian dia pingsan. Gua panik at the disco, halah apaan si. pokok nya panik dah karena gua ga pernah nanganin orang sakit digunung dengan riwayat penyakitnya kek gini.


Porter - porter ganteng

Onta terbaring pingsan diatas matras dibawah biovac darurat, si kampret ini membuat kita bertiga panik banget karena dalam pingsanya dia seperti orang lagi sakaratul maut cuys. untungnya dia kembali sadar lagi setelah kita kompres pake air panas. Dia ini sebenernya bukan baru sekali dua kali naik gunung, tapi udah berkali - kali. cuma entah apa yang menyebabkan kali ini dia terkapar tak berdaya. padahal di pendakian gua sama dia sebelum - belumnya mah aman terkendali. palingan juga dia sering ngeracau liat penampakan, karena doi punya six sense *katanya* gua sih kaga percaya, palingan juga ngigo. hahaha :p

Ngajak Bocil Tambora Selfie

Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian gua dan team memutuskan untuk turun kembali ke basecamp, setelah si Onta ini kembali cukup sehat dan segar serta mampu untuk jalan turun gua pun menelpon ojek scumbag untuk menjemput kami di bawah tangga. Kami pun kembali ke basecamp pendakian lagi dan memutuskan untuk mendaki kembali esok hari tanpa si Onta. Karena terlalu beresiko mengajak dia yang notabenya punya penyakit cukup bahaya ditambah dia kaga bawa obat.


Day 3
Senin, 16 Mei 2016


(Kediaman Bang Ipul. pukul 04.00 WITA)

Gua bangun lebih pagi dari hari sebelumnya, karena gua berencana akan mendaki hingga pos 5 hari ini. Si Onta gak keberatan kita tinggalin di basecamp, dan ternyata juga dia sudah janjian sama anaknya bu Irma untuk jalan - jalan ke pulau Satonda. Jadi lumayanlah daripada dia kaya orang bego di basecamp sendirian. Usai Sarapan gua langsung bergerak menaiki ojek scumbag menuju jalur semen. ya hari ini gua naik ojek gak sampe pos portal tapi lanjut terus sampe jalur semen, alasanya karena gua kemaren udah lewatin lebih dari situ, kalo tuh ojek scumbag bisa sampe Pos tiga sih sampe sana deh gue naiknya.haha


(Tangga diujung Jalur Semen. pukul 06.30 WITA)

Yak penyakit "ngangkangin" kembali menyerang, terlebih kali ini jalur yang dilalui lebih jauh dan parah. Setelah isitrahat sekedar ngelempengin biji gua bertiga melanjutkan perjalanan menuju Pos 1. Bang Manto yang lain dan bukan adalah salah satu pengendara Ojek Scumbag berpesan jangan mengikuti jalur motor dan jangan lupa kalau mau summit bahan makanan digantung diatas pohon, karena banyak babi - babi slebor berkeliaran dan tak segan - segan mengacak - acak barang kita.

Tangga diujung jalur semen

(Pos 1,  pukul 07.35 WITA)

Setelah berjalan selama 45 Menit dari tangga gua sampe di pos 1. jalur menuju pos 1 cukup mengurus tenaga. karena tanjakanya lumayan terjal ditambah banyak pohon tumbang jadi tantangan tersendiri untuk menuju pos 1 ini. Di pos 1 ada shelter yang cukup nyaman, tapi sayangnya banyak kampret - kampret yang vandalis disini, jadi jelek dah nih shelter dengan corat - coretan.

Pos 1 

Pos 1 ini sangat rimbun dengan pepohonan, disekeliling shelter banyak suara burung berkicau dan monyet lagi sange. Pokoknya nih hutan rame banget, dan yang bikin gua seneng itu disini pohonya gede - gede jadi cakep diliatnya nih hutan. Di pos 1 ini ada dua cabang jalur, cuma karena gua inget saran Bang Manto, jadi gua gak ikutin jalur motor, tapi ngikutin jalur setapak yang gak jelas karena rapatnya jalur tersebut oleh alang - alang. Se-persebatangan rokok (istilah apan dah ini) gua pun melanjutkan perajalanan menuju Pos 2.

Salah satu coretan Kampret pelaku vandalis

(Pos 2,  pukul 09.58 WITA)

Gua bertiga menghabiskan waktu sekitar 2 jam berjalan santai menuju pos 2, bahkan sempet nyasar sebentar gegara salah jalur. fyi di Tambora itu jarang banget ada papan penunjuk jalan, padahal jalurnya banyak simpang, gua nyasar setelah berjalan sekitar 10 menit dari pos 1. Untungnya jalur dari pos 1 menuju pos 2 itu tergolong landai, sekalinya nanjak paling cuma dikit doang. tapi datarnya itu lumayan jauh. kalo dari papan penunjuk di pos 2 sih bilangnya cuma 2km, tapi gua rasa itu dusta alias hoax. soalnya kalo dijalanin jauuuuuuuuuuhhh brooooo!

Pos 2

Di pos 2 ini terdapat shelter seperti di pos 1 dan juga terdapat aliran sungai yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi air minum. Di pos ini gua baru sadar kaki gua udah di sedot sama pacet. Oiya cuy, karena Tambora ini tergolong rapet tumbuhan dan kebetulan juga hutanya agak lembab jadi ga usah heran kalo tetiba ada pacet dikaki atau di tangan lo. Sepulang dari Tambora gua pun mengoleksi 5 bekas gigitan pacet kampret. Pokoknya sebelum pake sepatu ada baiknya lo mengecek bagian dalam sepatu lo, karena biasanya pacet ada didalam situ, ga peduli kaki lu bau bangke atau bau tanah pokoknya cek aja dah!!
pacet menyerang sepatu yang masih panas

(Pos 3,  pukul 12.47 WITA)

Perjalan meuju pos 3 ini cukup melelahkan, jalurnya berubah drastis yang sebelumnya dari pos 1 ke 2 landai, pos 2 ke 3 itu curaaaam dan panjaang braaaaaay! gua rasa jalur terpanjang selama pendakian ini adalah antara pos 2 ke pos 3. Kondisi hutan masih sama seperti sebelumnya didominasi pohon besar dan pohon tumbang, jadi terkadang kita harus ngerangkak dan terkadang harus melompati pohon tumbang bahkan disini banyak lorong yang terbentuk dari pohon - pohon yang merunduk (apaan si pohon merunduk).

Pos 3

Pos 3 merupakan tanah lapang berukuran 2 kali lapangan badminton, sekiranya cukup untuk mendirikan lebih dari 10 tenda dome dan disini terdapat pos shelter yang cukup nyaman untuk beristirahat. Gua bertiga pun memang berancana untuk istirahat dan makan siang disini lalu usainya melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Tapi teori kacrut mengatakan, sehabis makan yang ada hanyalah kemageran, ya mager! males gerak! males galer! males irama (apaan dah) pokoknya mager ngapa - ngapain, oleh karena rasa mager lebih besar daripada semangat gua bertiga, gua bertiga pun memutuskan untuk camp disini,hahaha dasar pemalas!

Sebelum diacak - acak babi

Gua pun segera mendirikan tenda, abis diriin tenda kita bertiga bergerak mengambil air. kenapa ga berdua aja atau sendiri? karena kita bertiga ga ada yang mau di madu, lah apaan si. Pokoknya ya pengen bertiga aja biar adil capeknya. Ternyata keputusan bertiga mengambil air dengan meninggalkan tenda itu keputusan yang salah!

Mata Air pos 3

Tempat ngambil air di pos 3 ini lumayan jauh bro, bohong banget tulisan di pohon yang mengatakan cuma 200 Meter. Pokoknya semua plang yang ada disini gua bilang bohong dah,haha setelah berjbaku mengambil air gua pun kembali ke pos 3. dan pas gua balik ke pos 3 lagi keadaan tenda gua sudah amburadul, terbalik kaga jelas. Ternyata tenda gua habis diserang BABI SLEBOR TAMBORA!!!

Sesudah diacak - acak babi slebor

Oh shit mamen, ilernya dimana - mana, fucking bastard! kampret! najis! jijik dan bauuuk! dan terparahnya adalah tenda si Abel kawan gua sobek dibuatnya.haha padahal tuh tenda baru launching dimari. Alhasil gua bertiga sibuk bersihin najis tuh babi pake air dan lumpur. Untung gak lama bersih - bersih ujan yang cukup deras turun. jadi gua gak terlalu capek bersihin tuh najis. tapi gua tetep dongkol aja sama tuh babi slebor yang main belakang dan kaga beraniii munculin dirinya, dasar BABI!untuk video pasca diack - acak babi slebor bisa diliat dibawah ini




(Pos 3,  pukul 23.00 WITA)

Alarm berdering keras membangunkan gua dari tidur, fyi gua bertiga akhirnya ga tidur ditenda karena parno sama Babi Slebor Tambora, jadinya malem sebelum kita tidur kita gulung tenda dan tidur di shelter hanya menggunakan sleeping bag. fyi dibagian sisi - sisi shelter ini ada terpal yang menutupi untuk menahan angin yang datang dan disisi yang tidak tertutup terpal gua tutup dengan flysheet. jadi lumayan hangat gua brtiga tidur di shelter malam ini.

Di pos 3 ini suasananya serem bro, creepy! hawanya gak enak dah pokoknya, sempet kepikiran dalam hati gua kaga mau muncak gegara serem bet dan kebetulan juga gua digunung ini cuma bertigaan bro gak ada pendaki lain. Tapi Allah maha besar, tidak ada yang lebih besar darinya dan gua bertiga punya Allah, berbekal bismillah dan doa - doa pendek gua pun melangkah menuju jalur pendakian untuk summit attack (tumben bener nih gua)


Day 4
Selasa, 17 Mei 2016

(Pos 4,  pukul 00.30 WITA)

Dibutuhkan waktu 1 jam perjalanan tanpa membawa beban tas keril untuk sampai di pos 4. Jalur menuju pos 4 cukup terjal dan rapat oleh tumbuhan. mulai dari pos 3 keatas tumbuhan didominasi oleh Jelatang. Iya Jelatang, itu tuh kalo mata lu genit disebutnya mata Jelatang *jayus kampret*. Jelatang merupakan tumbuhan yang berbentuk sepintas ada yang mirip daun ganja dan ada yang kaya daun talas.
Pos 4

Di sekujur batang dan daunya tumbuh duri - duri kampret yang kalo terkena kulit rasanya pedih dan panas. Gua yang udah berpakaian rapet banget dari atas sampe kebawah tetep nembus cuyys, alhasil paha dan betis gua serasa pedih dan panas. Jancuk! oiya kalo di Argopuro Jelatang disebutnya Jancukan. Di pos 4 ini tidak ada shelter seperti di pos - pos sebelumnya pos 4 hanya ditandai dengan tanah lapang yang cukup luas dan patok dipohon penanda kalo ini pos 4. Oiya disini ada sinyal handphone walau hilang - hilangan.


(Pos 5,  pukul 02.00 WITA)

Jalur menuju pos 5 tidak beda dengan jalur sebelumnya, di dominasi oleh tumbuhan jelatang serta tanjakan yang lumayan curam. Pos 5 tidak mempunyai tanda apa - apa. yang ada hanya sebuah tanah lapang di kanan jalur yang kurang lebih hanya cukup untuk 4 tenda dome. Gua bertiga isitrahat disini cukup lama.

Pos 5

Usai se-persebatangan rokok dan se-perjamuan teh gua pun melanjutkan jalan menuju summit, tapi disni ada dua cabang, cabang pertama adalah belok kanan mengikuti jalur mengambil air dan yang kedua adalah lurus terus, setelah rapat misbah bertigaan gua memutuskan untuk mengambil jalur yang lurus dengan alasan lebih jelas jalurnya.

Jalur menuju summit  dari pos 5 itu lumayan berat, makanya salah banget kalo summit attack  dari pos 3 karena tenaga bakal kekuras habis, belum lagi ngantuk yang menyerang. Untuk menuju summit kta akan melewati bukit yang tidak habisnya, menurut gua persis kaya bukit penyesalan di rinjani tapi bedanya disini gak berdebu melainkan basah karena jalurnya rapet akan tumbuhan dan alang - alang.

Tempat break ditengah jalur menuju puncak

Gua saranin untuk memakai gaiter sewaktu mau summit attack, kenapa? karena kalo enggak, nanti dari mulai sepatu sampai paha lo pasti akan basah karena jalurnya tertutup alang- alang yang ber-embun. Efeknya kalau kaos kaki basah adalah mudah terserang masuk angin, seperti yang dialami kawan gua Eko, ditambah angin yang cukup semriwing membuat malam ini begitu dingin menusuk tulang.

View hutan cemara (cemara apa pinus ya?)

Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk break ditengah jalur yang agak tertutup dari terpaan angin untuk menunggu matahari tiba, udah ga peduli namanya view sunrise karena kami bertiga sangat kedinginan saat itu. Sambil menunggu matahari gua pun menyeduh teh manis dan memakan cemilan untuk sekedar mengisi perut yang udah mulai krucukan. Rasa kantuk yang teramat dalam membuat kami bertiga tertidur pulas ditengah hangatnya kompor yang terus menyala.

Landscape dari bukit kampret

Usai matahari menunjukan dirinya dibalik bukit, gua pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. dari tempat gua beristirahat ternyata masih jauh banget untuk menuju puncak, entahlah harus ngelewatin berapa bukit lagi, pokoknya Tambora itu diluar ekspetasi gua, gua kira jalurnya kaya gunung gede/salak yang gak terlalu terjal - terjal amat. gak taunya buseett cuyys udeh jauh terjal pulaaa!!

(Puncak Kaldera Tambora,  pukul 07.30 WITA)

Kalo lu pernah naik gunung yang mempunyai kawah dipuncaknya seperti Gunung Gede, Gunung Merapi atau Gunung Raung, ketika lu melihat ujung dari puncak tersebut lo pasti berfikir kalo udah sampe diatas nanti lo bakal langsung bisa liat view kawahnya, secara (ceilah secara cuys bahasa gua) ditempat lu berdiri ini igir - igir kawah alias pinggiran kawah. seperti di Gunung Gede, Raung atau Merapi.

gaya doang

Tapi beda sama Gunung Tambora, karena setelah lo sampe diujung puncak yang gua pikir itu igir - igir kawah gaktaunya beloman cuyys, kita harus berjalan sekitar 1 km lagi kedepan barulah sampe di igir - igir kawah Tambora, Jalanya datar tapi gak jelas, jadi suka - suka lu aja mau lewat mana. dan ternyata gua gabisa kepuncak tertinggi Tambora mamennn.

Orang Ganteng

Jalurnya terputus oleh jurang. Setelah gua cari tau ternyata untuk menuju puncak tertinggi jalurnya beda, dan cabangnya ada di pos 5 dimana jalurnya searah dengan jalur ambil aor di Pos 5, ya tapi buat gua yang emang bukan penggila puncak - puncak amat, cukuplah menyaksikan kaldera gunung yang menjadi legenda di dunia ini, kawahnya luas banget bro! sayangnya waktu gua disini keadaan kawah cukup berkabut dan berasap. jadi viewnya gak begitu bagus. Dan karena gua dikejar waktu untuk turun sebelum gelap sampe basecamp. usai foto - foto gua langsung turun lagi.


(Pos 5,  pukul 10.30 WITA)

Naik setengah mati turunya cuma satu jam cuyss, disini gua istirahat sebentar untuk ngelempengin dengkul yang udah mulai bergetar. sepersebatangan rokok pun gua melanjutkan perjalanan turun, 

Ladang Jelatang

(Pos 4,  pukul 12.10 WITA)

Lagi - lagi cuma se-persebatangan rokok doang terus lanjut jalan turun, perut udah keroncongan udah kepikiran makan sama minum aja di pos 3.

Jelatang everywhere

(Pos 3,  pukul 13.05 WITA)

Tidak jauh sebelum sampai pos 3 gua ketemu bocil - bocil yang lagi mau naik, dia bilang sama gua kalo di pos 3 tenda gua diacak - acak sama babi (dalem hati gua berfikir "kan tenda gua gua jemur yak, diacak gimana coba") dia bilang tenda gua udah dirapihin sama mereka, gua pun bilang makasih dan lanjut ke pos 3. Sesampainya pos 3 ternyata bener tenda gua udah dirapihin mereka, Cuma flysheet yang gua jadikan penutup shelter sobek dihajar tuh babi.

Ulah Babi Slebor

Klimaksnya yang paling bikin hati ini sedih adalah, jerigen 5 liter gua bertiga hilaaaaaang!! bangsat!! mana gua bertiga kehausan banget. setelah cari kesana kemari akhirnya ketemu tuh jerigen ditumpukan sampah - sampah dengan keadan udah sobek dan sudah ilang semua airnya :((((((, pengen nangis nginget ngambil tuh aer jauh banget dan badan udah lelah serta dehidrasi ngeliat tuh drigen udah ilang airnya.

Jerigen 5 liter yang sobek :(

Berbagai spekulasi muncul, dikarenakan jerigen ini sobeknya gak masuk akal karena sobeknya disambungan. btw jerigen gua ini jerigen lipet. Lagian Jerigen gua gua taro atas shelter dan posisinya berada dipojokan, pertanyaanya adalah emang babi bisa naik ke shelter?  ya kalaupun bisa pasti ini jerigen gua pecah diatas sini dan pasti ada jejak tuh babi slebor disini, tapi disni gak ada.


View pos 3

Karena setelah dipikir - pikir percuma berspekulasi kaya apa gak bakal bikin air itu balik, kami bertiga pun memutuskan akan makan siang di pos 2, karena kami bertiga mager banget untuk turun kebawah ambil air dan kebetulan gak lama turun hujan deras disini, mengingat jalur mengambil air itu terjal jadi agak bahaya kalo hujan - hujan gini jadi licin *alesan doang ini mah*.

Setelah packing selesai kami pun melanjutkan perjalan turun sambil berhujan - hujanan. Untuk menghilangkan dahaga kami hanya ngemutin madu sachet dan meresin air dari lumut - lumut dipohon,haha nyiksa diri padahal kalo mau capek sedikit untuk ambil air di pos 3 gak bakalan sedahaga ini, tapi ya karena kami pendaki mager mau diapain dong, nikmatin aja air ujan.haha


(Pos 2,  pukul 15.00 WITA)

Entah ada power apa yang menyebabkan gua ngacir banget turun sampe pos 2. Gua rasa karena saking laper dan hausnya jadi kepengen sampe di pos 2. Sesampainya gua pun langsung minum dan menyeduh nutrisari. seger beneerr cuyyy! gak lama si Abel dan Eko datang menyusul untuk melepas dahaga. Usai makan gua bertiga melanjutkan perjalanan turun. ngacir brooow!

Sungai di pos 2


(Pos 1,  pukul 16.30 WITA)

Karena jalurnya landai gua pun gak menyia - nyiakan kesempatan ini untuk ngacir ditambah gua kebelet boker juga cuy makanya ngacir banget meninggalkan kedua temen gua dibelakang. Sesampainya di Pos 1 pun gua langsung setoran tunai cuys.haha Gak lama kedua kawan gua sampe dan mereka sudah menelpon ojek scumbag  untuk menjemput kami di jalur semen.


Pos 1


(Jalur Semen,  pukul 17.15 WITA)

Bang Manto udah teriak - teriak manggil nama gua, bukan main emang nih ojek dimari cepet bet nyampenya, bener - bener scumbag! hahaha. gak lama gua pun langsung ngacir menuju basecamp alias rumah bang Ipuls. Jalur yang becek semakin memperparah perjalanan turun gua sama ojek scumbag sampe sampe gua harus tersungkur dilumpur akibat gak bisa seimbangin badan gua diatas lumpur, shit mamen!


(Kediaman Bang Ipul. pukul 18.00 WITA)

Alhamdulillah gua sampe juga disini dengan selamat. Cukup melelahkan dan seru pendakian Tambora ini, Lumayanlah mengobati rindu gua dengan hutan dan nuansa pendakian. Sesampainya yang namanya kopi sama teh manis udah disipain sama Bu Irma tanpa kami minta, luar biasa banget pelayanan Ibu irma terhadap tamu - tamunya ini.

Pamit sama keluarga bang Ipul (tapi bang ipulnya ga ada)

Setelah bersih - bersih dan makan malam, gua pun berpamitan sama Bu Irma untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Flores, Si Onta yang baru ditinggal sehari disini udah eksis banget di desa Pancasila, buset udah cocok bener jadi orang mari dia, akrab banget sama Bu Irma dan Anaknya, sampe segala pake adegan peluk - pelukan sambil nangis pula pas pamitan.lebhaaayyy!


So Lebhaaaaaay!

Pak Edi yang merupakan driver carteran kami sudah tiba dari tadi sore, dan dari tampangnya dia sudah siap sekali membawa kami ber-nascar rumble di Doro Ncanga lagi, tapi untungnya gua udah capek banget jadi udah bodo amat dah dia mau nabrak beruang kek nabrak badak kek nabrak kampret kek, pokoknya bodo amat gua mau tidur! hingga pada akhirnya gua tersontak (apa pula tersontak) kebangun gegara si Onta teriak - teriak karena mobil kita nabrak kambing! EDAN MAMENNN!!

"End of Journey"


Untuk Cerita di Pulau Komodo bisa dibaca disini --> 3 hari 2 Malam Mengarungi Kepulauan Komodo



Estimasi Waktu Pendakian Gunung Tambora :

Basecamp - Pos Portal      :  30 Menit
Basecamp - Jalur Semen   : 45 Menit
Pos Portal - Pos 1             : 1.5 Jam
Jalur Semen - Pos 1          : 45 Menit
Pos 1 - Pos 2                    : 2 Jam
Pos 2 - Pos 3                    : 2.5 Jam
Pos 3 - Pos 4                    : 1 Jam ( tanpa membawa keril )
Pos 4 - Pos 5                    : 1 Jam ( tanpa membawa keril )
Pos 5 - Puncak Kaldera      :  4 Jam


Perincian Biaya (sewaktu - waktu bisa berubah):

Tiket Pesawat Jakarta - Bima     : Rp. 1.050.000
Carter Bima - Basecamp            : Rp.    750.000 sekali jalan
Ojek sampe portal                      : Rp.      50.000
Ojek sampe Jalur Semen            : Rp.      80.000
Pendaftaran                               : Rp.       5.000 per hari
Penginapan Basecamp               : Rp.    100.000 per hari

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.