Catatan Pendakian Gunung Papandayan #Swiss Van Java



Sekilas Kota Garut


Kalau Bandung disebut sebut sebagai Paris Van Java tak kalah keren Garut disebut juga sebagai Swiss Van Java, kenapa demikian? saya akan mencoba bahas sesuai pengetahuan saya. jika diperhatikan, diantara keduanya memiliki beberapa kesamaan salah satunya mungkin karena daerahnya yang sejuk dan berada di dataran tinggi pegunungan. Seperti halnya Swiss, Garut juga memiliki pesona alamnya yang sangat indah, seperti gunung, Air terjun, pemandian air panas, padang rumput dan masih banyak lagi, sehingga sejak zaman penjajahan dulu orang Belanda mengatakan bahwa kota Garut merupakan miniatur Swiss yang berada di pulau Jawa.

Jika Swiss memiliki Gunung Alpen, Garut memiliki Gunung Papandayan yang menjadi daya tarik utama wisatawan asing. hal ini dikarenakan wisata kawahnya yang begitu mempesona untuk dinikmati, disana terdapat Kawah Mas, Kawah Nangklak dan Kawah Manuk. Pada tahun 2003 Gunung ini mengalami erupsi yang cukup hebat, banyak kerusakan yang ditimbulkan letusan saat itu yang hingga kini sisa sisa erupsi tersebut dapat dilihat dan dinikmati oleh khalayak orang. Selain itu padang rumput yang hijau, jernihnya air sungai, taman Eidelweiss yang luas turut serta menambah kecantikan Gunung Papandayan ini.

Entah apa lagi yang bisa dibandingkan antara Swiss dan Garut saya pun masih penasaran, mungkin jika Swiss punya coklatnya yang mendunia, Garut juga mempunyai Dodol yang cetar membahana. dan masih banyak lainya yang mesti saya cari tahu agar rasa penasaran ini terbayar,hehe yang jelas saya akan menceritakan perjalanan saya di Gunung Papandayan yang menjadi perhatian pertama orang asing pergi kesini.

Day 1
25 Januari 2013

Pendakian Gunung Papandayan

Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 25 Januari 2013 bersama kawan - kawan, saya berkunjung ke kota yang di juluki Swiss Van Java itu untuk mendaki Gunung Papandayan. perjalanan dimulai pada Juma't malam dari Terminal Lebak Bulus Jakarta, Armada bus Primajasa yang saya tumpangi bergerak meninggalkan terminal pukul 21.37,  tarif bus ini adalah 35rb perorang dengan kelas Ekonomi AC tanpa ada fasilitas toilet, untuk para perokok jangan khawatir karena bus ini menyediakan smoking room pada kursi bagian belakang. pukul 02.04 kemudian saya sampai di Terminal Guntur, Kota Garut.


Primajasa kelas Ac Ekonomi

Day 2
26 Januari 2013


( Terminal Guntur Kota Garut Pukul 02.04 )

Untuk yang suka wisata Hiking banyak akses dapat ditempuh untuk bisa sampai disini, Jalur umum yang paling sering digunakan adalah melewati Desa Cisurupan. Dari terminal Guntur kita dapat menggunakan angkutan umum seharga 5rb dengan jarak tempuh sekitar 30 menit - 1 jam untuk menuju kesana. Namun karena saya tiba di sini dini hari, angkutan sudah jarang sekali terlihat, padahal tahun lalu ketika saya kesini banyak sekali angkutan kalong yang masih beroperasi mengangkut para penumpang yang tiba di terminal dini hari. cukup lama saya menunggu, Hingga saya berinisiatif mengajak rekan pendaki yang saya temui di terminal untuk mencarter sebuah mobil carry menuju cisurupan dengan harga 120 dibagi 9 orang. pukul  03.47 saya bergerak menuju Cisurupan.

( Cisurupan Gunung Papandayan Pukul 04.28 )

Pukul 04.28 saya tiba di Cisurupan, dan beristirahat di masjid raya cisurupan untuk menunggu datangnya adzan subuh. Dari jalan raya Cisurupan kita bisa melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan pick up bertarif 100rb untuk sekali jalan, dengan maksimal penumpang 10 orang. saya yang saat itu datang ber4 bergabung dengan pendaki lain untuk menumpang pick up agar lebih murah membayar sewa pick up tersebut. jarak dari Cisurupan menuju pintu gerbang pendakian berkisar 9km, dengan jalan aspal yang cukup parah, tak jarang penumpang dalam pick up teromabang ambing atau bahkan hampir terlempar keluar seperti yang dialami pendaki yang saya kenal disini. pukul 07.00 saya tiba di pelataran parkir atau biasa disebut Camp David setelah 40 menit berada di pick up

Masjid raya cisurupan


( Camp David Gunung Papandayan Pukul 06.20 )

Setibanya di camp david pengunjung akan disajikan pemandangan gunung Papandayan dengan Kawahnya yang begitu memukau. di pelataran parkir ini banyak terdapat warung - warung yang menjajakan berbagai hidangan, menurut pengalaman saya harga makanan setiap warung disini berbeda - beda, dari mulai biasa saja sampai cukup mahal. disekitar pelataran parkir banyak spot - spot untuk mendirikan tenda, buat anda yang malas untuk mendaki dapat mendirikan tenda di area ini. setelah membayar retribusi seharga 2000 per orang, tepat pukul 07.40 saya memulai pendakian.

Pelataran parkir atau camp david

Awal pendakian jalur didominasi oleh batu batuan vulkanis serta disekeliling jalur banyak ditumbuhi pohon cantigi. jalur akan terus datar dan sedikit menanjak sampai tepi kawah lalu jalur akan berubah menanjak kembali. Gunung Papandayan memiliki 2 komplek Camp Site favorit, Pertama Tegal Alun, merupakan sebuah camp site yang sangat luas dengan ditumbuhi pohon Eidelwess disetiap sudutnya, Di sebelah selatan terdapat rawa dimana terdapat air untuk memenuhi kebutuhan pendaki tapi berhati hatilah karena disinyalir kompleks Tegal Alun ini masih banyak sekali babi hutan yang berkeliaran.

Jalur awal pendakian

Kedua Pondok Saladah, Merupakan sebuah camp site yang cukup luas hampir mirip dengan Tegal Alun, namun pohon eidelweiss yang tumbuh disini tak sebanyak seperti di Tegal Alun. Pondok Saladah merupakan camp site favorit para pendaki, karena jalur menuju Pondok Saladah terbilang lebih mudah dibandingkan dengan Tegal Alun, di Pondok Saladah pengunjung dapat menikmati pemandangan dapur kawah yang selalu mengeluarkan asap putihnya ke udara, pemandangan tersebut indah untuk dinikmati dengan bercengkrama sambil minum kopi, dan untuk persediaan air disini pengunjung tak perlu risau, karena di Pondok Saladah terdapat sungai kecil untuk memenuhi kebutuhan para pendaki, airnya sangat jernih dan segar.

Untuk menuju Camp Site Tegal Alun pengunjung dapat lurus terus melewati kawah lalu melewati kompleks hutan mati dan tiba di Tegal Alun, atau apabila pengunjung ingin menuju Camp Site Pondok Saladah dari tepi kawah bisa mengambil jalur kekanan terus sampai tiba di Pondok Saladah. saya yang malas dengan jalur ekstrim menuju Tegal Alun memilih mengambil jalur kanan menuju Pondok Saladah dan berencana esok hari mengunjungi Tegal Alun.


Kawah Gunung Papandayan

Asap yang dihasilkan oleh kawah belerang membuat mata saya pedih dan sedikit sesak napas, seringkali saya mengucek mata karena asap yang sangat memedihkan itu. lepas dari kawah,  jalur pendakian akan berubah menjadi menurun lalu menyebrangi sungai kecil kemudian menanjak kembali hingga tiba di  lawang angin, Lawang Angin yang berarti pintu angin adalah jalur pendakian yang dihimpit oleh dua tebing seakan membentuk pintu, dan angin yang dimaksud adalah angin yang bertiup diantara dua tebing tersebut, sehingga tempat ini disebut Lawang Angin. saya tiba di Lawang Angin pukul 09.34


pemandangan dari lawang angin


( Lawang Angin Gunung Papandayan Pukul 09.34 )

Lawang Angin merupakan sebuah dataran yang banyak ditumbuhi rumput rumput hijau, disini pengunjung dapat menikmati pemandangan Kawah Papandayan dengan padang rumputnya yang hijau, mungkin ini adalah salah satu pemandangan yang membuat Garut dikatakan mirip dengan Swiss. Apabila pengunjung ingin menikmati pesona matahari terbit, pengunjung dapat mengambil jalan sedikit kekanan dari Lawang Angin dan akan ditemui sebuah camp site untuk menikmati pesona matahari terbit, di Tegal Alun maupun Pondok Saladah pesona matahari terbit tidak akan terlihat, karena terhalang oleh bukit bukit disekelilingnya. Sedangkan untuk menuju Pondok Saladah, dari Lawang Angin pengunjung dapat mengambil jalan ke kiri mengikuti jalur lorong yang terbentuk secara alami oleh pepohonan dan lurus saja sampai tiba di Pondok Saladah. saya bergerak meninggalkan Lawang Angin pukul 09.50

Lawang Angin, lorong didepan adalah jalur menuju Pondok Saladah

( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 10.02 )

Pondok Saladah pagi ini cukup ramai para pendaki, sampai saya kesulitan mencari spot untuk mendirikan tenda. sekitar pukul 14.00 awan hitam mulai berdatangan dan rintik hujan sudah turun membasahi bumi, fuh dengan terpaksa sore ini saya habiskan hanya didalam tenda karena hujan yang deras membuat aktifitas terbatas. mendaki gunung saat musim hujan memang kurang menyenangkan, selain ancaman resiko yang lebih tinggi aktifitas juga terganggu. tapi buat saya, pendakian kali ini hanya untuk mencari ketenangan dan sejuknya udara pegunungan, tak apalah tidak dapat menikmati pemandangan yang indah, asal nuansa yang saya inginkan terwujud saya sudah merasa cukup puas. sayapun terlelap  setelah lahap memakan sayur sop yang menjadi menu santap malam ini. badai malam ini cukup keras, hembusan angin membuat malam ini semakin dingin, dingin yang cukup menusuk tulang.


Camp site Pondok Saladah

Day 3
27 Januari 2013


( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 07.00 )

Hiruk pikuk suara pendaki pagi ini membuat saya terbangun dari tidur, pagi itu seperti dipasar, ramai sekali orang ber wara - wiri di sekitar Pondok Saladah, sampai - sampai saya mau buang air kecil saja kesulitan karena hampir disetiap sudut Pondok Saladah berisi tenda - tenda para pendaki. Pagi ini saya berencana untuk menuju Tegal Alun yang terletak dibalik bukit disebelah barat Pondok Saladah. Untuk menuju Tegal Alun dari Pondok Saladah terdapat dua jalur yang dapat dilalui, Jalur pertama kita dapat melipir kekanan lalu menanjak mengikuti jalur bebatuan hingga tiba di Tegal Alun. Sedangkan yang kedua kita melipir kekiri mengikuti jalur air hingga tiba di kompleks hutan mati lalu mengambil kekanan menanjak dan tiba di Tegal Alun. 

Tegal Alun ada dibalik bukit 

Setelah makan pagi, sekitar pukul 09.00 saya bergerak menuju Tegal Alun melalui jalur pertama, Batu batuan besar menjadi pijakan saya selama mendaki menuju Tegal Alun dan terkadang saya pun harus sedikit memanjat untuk melewati batu batuan tersebut, dari jalur batu ini kita dapat melihat pemandangan Pondok Saladah yang begitu luas dan hijau, tenda yang saya tinggalkan di sana pun terlihat kecil dari sini.


view Pondok Saladah dari Jalur 1 menuju Tegal Alun


( Tegal Alun Gunung Papandayan Pukul 10.00 )

Seperti yang saya bayangkan, Tegal Alun mirip sekali dengan surya kencana di Gunung Gede, hanya saja eidelweiss disini lebih banyak,menurut saya. saya berjalan menuju rawa disebelah utara Tegal Alun dengan menyusuri pohon - pohon Eidelweiss setinggi dada, andai saja saat itu bunga eidelweiss sedang bermekaran, tampak saya sedang berlarian dengan sesosok wanita saat seperti itu sudah mirip sekali dengan adegan film India,hehe

Rawa yang ada di Tegal Alun

Disini terdapat juga rumput - rumput hijau yang unik, bentuknya bulat bulat dan tersebar diseluruh Tegal Alun, entah apa yang menyebabkan rumput disini berbentuk seperti itu, lucu sekali saya melihatnya. tak lama disini saya begegas kembali ke Pondok Saladah, untuk menuju Pondok Saladah saya memlih jalur Hutan Mati. dari tegal alun ambil arah ke selatan nanti diujung Tegal Alun belok kiri. jalur disini cukup licin, tanah putih keemasan yang basah membuat perjalanan turun sedikit menantang, sekitar 15 menit berjalan saya tiba di Hutan Mati, Hutan Mati merupakan kawasan hutan yang mati akibat letusan Gunung Papandayan, tidak seperti hutan pada umumnya yang dipenuhi dedaunan, di Hutan Mati hanya terdapat batang pohon yang sudah mati dan menghitam. jika kabut sedang turun, nuansa di Hutan Mati akan terasa sekali, terkesan hutan yang mencekam dan menyeramkan,hehe

Rumput bulet - bulet di Tegal Alun

Dari hutan mati untuk menuju Pondok Saladah kita dapat mengambil jalur ke kiri terus, tapi untuk yang ingin langsung turun ke Camp David bisa lurus terus sampai tiba disana. sedangkan saya mengambil jalur ke kiri untuk menuju Pondok Saladah.

Kawasan Hutan Mati

( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 11.30 )

Pondok Saladah siang ini sudah mulai ditinggalkan para pengunjungnya, parahnya banyak sampah yang sengaja tidak dibawa turun oleh empunya, Pondok Saladah yang indah kini tercemar oleh orang - orang tak bertanggung jawab, btw saya disini dapet hibahan makanan dari rekan pendaki Kaskus OANC yang kebetulan ketemu disini. pukul 15.00 rintik hujan mulai membasahi bumi ini, saya yang berencana menginap di Lawang Angin memutuskan untuk tidak beranjak kesana, karena hujan semakin lebat membasahi Pondok Saladah. yang tersisa di Pondok Saladah hanya saya ber 4 dan seekor anjing penduduk. sungguh tenang Pondok Saladah hari ini, tanpa hiruk pikuk pendaki dan gangguan lainya, nuansa beginilah yang saya inginkan.

Pada malam hari hujan rintik masih menyiangi Pondok Saladah, suhu menunjukan angka 13.6 derajat membuat malam ini semakin dingin. Sinar rembulan menerangi hingga setiap sudut Pondok Saladah bisa terlihat dengan jelas. tak ada yang saya lakukan malam ini selain memasak dan bercengkrama demi mengisi malam terakhir Pondok Saladah.

Hanya tersisa 2 tenda di Pondok Saladah


Day 4
28 Januari 2013


( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 06.30 )

Cuaca pagi ini cukup dingin, membuat saya enggan beranjak keluar dari kantung tidur hingga akhirnya saya terpaksa keluar tenda karena perut mengalami kontraksi dan harus segera dikeluarkan,hehe tidak seperti kemarin, hari ini cukup mudah saya menemukan spot untuk buang air. Hari ini saya akan pulang ke Jakarta, sebenarnya saya masih ingin berada disini, namun karena waktu yang lagi - lagi jadi penghambat saya untuk berpetualang, esok hari saya harus mengikuti UAS semester ini. 

Setelah makan pagi dan membereskan perlengkapan saya pergi meninggalkan Pondok Saladah dan anjing penduduk yang malang untuk kembali ke rumah. pukul 09.27 saya bergerak meninggalkan Pondok Saladah.


Menu santap pagi ini

( Lawang Angin Gunung Papandayan Pukul 09.40 )

Sekitar 10 menit berjalan saya tiba di Lawang Angin, disini saya bertemu segerombolan warga sekitar yang hendak mencari kayu bakar menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi agar bisa berjalan dimedan pegunungan. tak lama berselang saya melanjutkan perjalanan turun




( Kawah Gunung Papandayan Pukul 11.00 )

Kawah Papandayan hari ini didatangi oleh banyak turis asing, memang tidak dipungkiri bahwa kawah ini begitu mempesona hingga turis asing pun pada berdatangan kesini. jadi kenapa harus keluar negri kalau orang asing saja pada datang kesini ujar saya dalam hati.


foto dikawah

( Camp David Gunung Papandayan Pukul 12.05 )

Pelataran parkir atau biasa disebut Camp David siang ini begitu sepi, tidak ada satupun warung makan yang buka. saya yang baru tiba berisitirahat di pos pendakian yang dikelola oleh pemuda sekitar, setelah berbasa basi sayapun melanjutkan perjalan turun menuju Cisurupan menggunakan pick up seharga 80rb 

( Cisurupan Gunung Papandayan Pukul 12.40 )

Sesampainya saya langsung lanjut menggunakan angkutan umum menuju Terminal Guntur, sumpek sekali didalam angkutan umum tersebut, bagaimana tidak berdus dus barang dan penumpang dipaksakan masuk kedalam angkutan yang kecil ini, hingga kami harus duduk berhimpit himpitan dengan penumpang lainnya. tarif angkutan ini 7rb sampai Terminal Guntur.

( Terminal Guntur Kota Garut Pukul 13.30 )

Banyak sekali para kenek dan calo yang menghampiri saya untuk menawarkan angkutan menuju Jakarta, namun karena saya sudah terbiasa menggunakan armada bus Primajasa saya tolak tawaran mereka. Bus yang saya tumpangi bergerak meninggalkan Terminal Guntur pukul 14.00

( Terminal Lebak Bulus Jakarta Pukul 18.03 )

Tepat adzan magrib saya tiba di Terminal Lebak Bulus, lalu berpisah dengan kawan - kawan untuk kembali kerumah masing masing.


Rincian Biaya pribadi :

Terminal Lebak Bulus JKT - Terminal Guntur GRT via Primajasa     : Rp. 35.000
Terminal Guntur GRT - Cisurupan via Carter                                  : Rp.  13.000
Cisurupan - Camp David via Pick Up                                               : Rp.  10.000
Retribusi                                                                                      : Rp.    2.000
Camp David - Cisurupan Via Pick Up                                              : Rp.   20.000
Cisurupan - Terminal Guntur GRT Via Angkutan Umum                   : Rp.     7.000       
Terminal Guntur GRT - Terminal Lebak Bulus via Primajasa            : Rp.   35.000          
-------------------------------------------------------------------------------------------------- +
TOTAL                                                           : Rp. 122.000
   

Terima kasih gue ucapkan kepada:

* Allah SWT
* Kedua Orang Tua gue
* Samastha Buana
* Kaskus OANC

* Rekan seperjalanan
   1.Bang Rudi
   2.Difky
   3.Librian
   
NB: Budayakan comment setelah membaca ya :D

8 komentar:

  1. cetar membahana ga baku pak?

    BalasHapus
  2. klo banyakan dr camp david carter aja pick upnya ampe terminal guntur. 17.000/orang

    gw sih ogah numpak angkot dicisurupan, maksain masukin padahal udah full

    BalasHapus
  3. @kang ndars ane cuma ber4 kang, kemaren mikirnya daripada ane naek ojek 15 tersiksa mending pick up dah beda 5rebu tenang,haha

    BalasHapus
  4. mantep gan, mudah2an bs kesana gan, itu fotonya yg berdua pake kaos biru sapa gan.? *hammer

    BalasHapus
  5. @letoy 3 hari itu pp, 1 harinya kaga diitung
    @kodok Apanya yang dishoot?ahah
    @anonim yoman gan berangkat secepatnya,sebelum kiamat :hammer:

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.